Minggu, 11 Maret 2012 13:47 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Nyeri dada nampaknya menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data, sedikitnya 40 persen masyarakat Indonesia yang mengalami nyeri dada meninggal dunia.
''Bahkan nyeri dada bisa menyebabkan kematian dalam waktu singkat,'' ujar Nahar Taufiq, staf pengajar Fakultas Kedokteran UMY saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Continuing Education (CME) ke-33 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (10/3) kemarin.
Menurutnya nyeri dada merupakan keluhan yang sering ditemukan pada unit perawatan akut atau gawat darurat. “Penyebab nyeri dada umumnya berasal dari gangguan jantung, saluran cerna, musculoskeletal dan gangguan paru serta saluran napas” jelasnya.
Dikatakannya, pada umumnya penangan nyeri dada pada penderita yang datang ke ruang gawat darurat tetap sama sesuai standar. Namun kata dia, dalam waktu 10 menit penderita sakit dada sudah harus dibedakan dalam empat kategori penanganan agar pasien bisa tertolong.
Menurutnya, dalam sepuluh menit pertama penderita nyeri dada sudah harus diketegorikan dana empat klasifikasi penanganan.Klasifikasi pertama adalah kategori P (Priority Rsik), kategori A (Advance Risk), kategori I (Intermediate Risk), dan kategori N (Negatif/Low Risk).
Setiap kategori, kata dia memiliki alur penanganan sendiri sendiri. “Penderita dengan kategori P adalah penderita dengan gejala sakit dada angin yang khas infarks disertai satu dari kriteria infarks dalam rekaman EKG," terangnya.
Sedangkan untuk kategori A, kata dia, terjadi sakit dada lebih dari 20 menit dan akut infark miokard dalam empat minggu terakhir serta adanya gangguan hemodinamik. Pada kategori I besar kemungkinan terjadi kematian atau infark miokard dalam 30 hari setelah nyeri dada sebesar 4-8 persen dan memiliki gejala seperti pada kelompok A sedangkan untuk kategori N kemungkinan terjadi kematian atau infark miokard dalam 30 hari adalah kurang 2 persen dengan pemberian aspirin nitrat sublingual.
Sementara itu Ardi Pramono, Dekan FKIK UMY menambahkan bahwa seminar CME ini telah memasuki angkatan ke-33 dan diselenggarakan mengikuti rangkaian pelantikan sumpah dokter baru. “CME atau Continuing Medical Education adalah salah satu wahana pembelajaran kepada para dokter tentang perkembangan mutakhir dunia medis” tambahnya.
Ardi berharap adanya CME diharapkan mampu memberi kontribusi terhadap pengetahuan para dokter dengan pendekatan ilmiah langsung dari narasumber ahli. “Acara ini juga sekaligus sebagai wahan menerapkan jiwa entrepreneur dibidang kedokteran atau medicalpreneur,'' ujarnya.
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Yulianingsih
STMIK AMIKOM
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/12/03/11/m0pk7m-waspadalah-nyeri-dada-sebabkan-kematian
Agar Gaji tidak Gampang Habis, Ini Dia Triknya
Rabu, 01 Pebruari 2012 11:52 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, 'Wah, gaji saya sih, lima koma sekian. Maksudnya, sudah tanggal lima, langsung koma...'' Atau, ''Duh, gaji itu seperti siklus menstruasi ya. Datangnya sebulan sekali, tujuh hari sudah selesai.''
Mungkin, Anda sering mendengar kalimat-kalimat ini. Reaksi Anda? Tertawa keras, tersenyum saja, atau berwajah kecut? Semuanya tergantung pada bagaimana Anda mengatur keuangan. Ketika tidak ada masalah dalam urusan finansial, tentu saja, Anda tidak perlu khawatir dengan kondisi keuangan Anda. Namun, kalau ternyata Anda juga cukup kalang kabut ketika harus menangani keuangan keluarga atau pribadi, ada baiknya ikuti tips berikut dari seorang perencana keuangan AS. Berikut trik untuk menangani gaji atau penghasilan agar tidak keburu habis sebelum waktunya:
Waspadai pengeluaran dalam jumlah kecil
Pengeluaran dalam jumlah besar biasanya selalu kelihatan. Namun, lain halnya dengan pengeluaran kecil yang terasa. Bayangkan, bila dikumpulkan pengeluaran kecil seperti dana untuk gaya hidup, ngopi di kafe, atau nonton film ternyata bisa besar juga. Anda dapat mulai membenahi keuangan dengan mewaspadai pengeluaran kecil ini. Bila Anda memasukkan dana untuk makan malam di resto atau ngopi di kafe dalam tabungan, siap-siap saja terkejut. Ternyata, jumlahnya lumayan signifikan.
Singkirkan 'kesenangan' yang tidak penting
Berlangganan televisi kabel, jadi anggota klub fitnes terkenal, atau ikut dalam klub golf bergengsi? Asyik memang. Pertanyaannya, apakah Anda sanggup membayar semua keanggotaan itu? Bila jawabannya tidak, siap-siap menghilangkan semuanya dalam daftar pengeluaran bulanan. Anda harus mengecek lagi seluruh pengeluaran agar sesuai dengan kantong.
Bayar lunas utang kartu kredit
Satu hal yang perlu diingat ketika memiliki kartu kredit. Dana di dalamnya bukanlah pemasukan untuk Anda. Punya kartu kredit adalah pengeluaran yang harus segera dibayarkan. Jadi, ketika menggunakan kartu kredit, kalau memungkinkan bayar lunas ketika tagihan datang. Maklum saja, bunga kartu kredit sangat mencekik. Anda boleh jadi akan terlilit utang seumur hidup bila tak pandai-pandai berstrategi menggunakan kartu kredit. Bila Anda memang sudah masuk dalam jeratannya, konsultasilah dengan pihak penerbit kartu kredit agar dapat bernegosiasi soal pembayaran.
Mulai berinvestasi
Beres mengatur pengeluaran plus berhasil 'menjinakkan' utang kartu kredit, inilah saatnya untuk mulai berinvestasi. Seperti yang diungkap Warren Buffet, investor dan pengusaha besar AS, investasi seperti diet. Mudah dipahami, tapi sulit dilakukan.
Untuk Anda yang mulai bisa menyisihkan gaji dalam jumlah tertentu atau katakanlah menyiapkan dana 'menganggur', mulai pikirkan untuk berinvestasi. Dengan begitu, uang yang akan bekerja untuk Anda, bukan Anda bekerja untuk uang. Jadilah, investor yang cerdas.
Selamat mengelola gaji...
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: abcnews
- http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/belanja/12/02/01/lyovyn-agar-gaji-tidak-gampang-habis-ini-dia-triknya
STMIK AMIKOM
REPUBLIKA.CO.ID, 'Wah, gaji saya sih, lima koma sekian. Maksudnya, sudah tanggal lima, langsung koma...'' Atau, ''Duh, gaji itu seperti siklus menstruasi ya. Datangnya sebulan sekali, tujuh hari sudah selesai.''
Mungkin, Anda sering mendengar kalimat-kalimat ini. Reaksi Anda? Tertawa keras, tersenyum saja, atau berwajah kecut? Semuanya tergantung pada bagaimana Anda mengatur keuangan. Ketika tidak ada masalah dalam urusan finansial, tentu saja, Anda tidak perlu khawatir dengan kondisi keuangan Anda. Namun, kalau ternyata Anda juga cukup kalang kabut ketika harus menangani keuangan keluarga atau pribadi, ada baiknya ikuti tips berikut dari seorang perencana keuangan AS. Berikut trik untuk menangani gaji atau penghasilan agar tidak keburu habis sebelum waktunya:
Waspadai pengeluaran dalam jumlah kecil
Pengeluaran dalam jumlah besar biasanya selalu kelihatan. Namun, lain halnya dengan pengeluaran kecil yang terasa. Bayangkan, bila dikumpulkan pengeluaran kecil seperti dana untuk gaya hidup, ngopi di kafe, atau nonton film ternyata bisa besar juga. Anda dapat mulai membenahi keuangan dengan mewaspadai pengeluaran kecil ini. Bila Anda memasukkan dana untuk makan malam di resto atau ngopi di kafe dalam tabungan, siap-siap saja terkejut. Ternyata, jumlahnya lumayan signifikan.
Singkirkan 'kesenangan' yang tidak penting
Berlangganan televisi kabel, jadi anggota klub fitnes terkenal, atau ikut dalam klub golf bergengsi? Asyik memang. Pertanyaannya, apakah Anda sanggup membayar semua keanggotaan itu? Bila jawabannya tidak, siap-siap menghilangkan semuanya dalam daftar pengeluaran bulanan. Anda harus mengecek lagi seluruh pengeluaran agar sesuai dengan kantong.
Bayar lunas utang kartu kredit
Satu hal yang perlu diingat ketika memiliki kartu kredit. Dana di dalamnya bukanlah pemasukan untuk Anda. Punya kartu kredit adalah pengeluaran yang harus segera dibayarkan. Jadi, ketika menggunakan kartu kredit, kalau memungkinkan bayar lunas ketika tagihan datang. Maklum saja, bunga kartu kredit sangat mencekik. Anda boleh jadi akan terlilit utang seumur hidup bila tak pandai-pandai berstrategi menggunakan kartu kredit. Bila Anda memang sudah masuk dalam jeratannya, konsultasilah dengan pihak penerbit kartu kredit agar dapat bernegosiasi soal pembayaran.
Mulai berinvestasi
Beres mengatur pengeluaran plus berhasil 'menjinakkan' utang kartu kredit, inilah saatnya untuk mulai berinvestasi. Seperti yang diungkap Warren Buffet, investor dan pengusaha besar AS, investasi seperti diet. Mudah dipahami, tapi sulit dilakukan.
Untuk Anda yang mulai bisa menyisihkan gaji dalam jumlah tertentu atau katakanlah menyiapkan dana 'menganggur', mulai pikirkan untuk berinvestasi. Dengan begitu, uang yang akan bekerja untuk Anda, bukan Anda bekerja untuk uang. Jadilah, investor yang cerdas.
Selamat mengelola gaji...
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: abcnews
- http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/belanja/12/02/01/lyovyn-agar-gaji-tidak-gampang-habis-ini-dia-triknya
STMIK AMIKOM
Langganan:
Postingan (Atom)