Budidaya Udang Organik

Penulis : Admin DJPB

Trend produk-produk organik kini makin diburu, makin organik sebuah produk maka makin mahal harganya. Udang misalnya akan semakin bernilai tinggi jika diberi label organik.

Budidaya udang organik adalah teknologi budidaya udang yang menjamin produk dan lingkungan, tidak mengandung residu bahan-bahan anorganik dan bahan kimia berbahaya lainnya.Teknologi pemeliharaan dalam budidaya udang organik pada dasarnya hampir sama dengan teknologi pemeliharaan udang pada umumnya, pada saat ini teknologi pemeliharaan udang organik baru berkembang pada budidaya udang tingkat tradisional, namun demikian Tambak Pandu Karawang sudah mulai melakukan pengembangan budidaya udang organik dengan teknologi yang lebih maju.Dalam pelaksanaannya tidak menggunakan pakan dan obat serta sarana produksi lainnya yang mengandung bahan an-organik dan residu lainnya.

Wadah Budidaya
Luas petakan yang digunakan umumnya 0,5 – 4 ha. Bentuk kolam pemeliharaan tidak perlu segi empat, konstruksi tambak tidak bocor (pematang kedap air) dan mampu menampung air dengan ketinggian 60 – 100 cm.
Permukaan dasar tambak dibuat rata dengan kemiringan sekitar 20% menuju ke arah pintu pembuangan (out-let) dengan tujuan untuk mempermudah proses pengeringan.
Pada dasar tambak dibuat caren keliling dengan lebar 1,5 – 2,0 m dan kedalaman 15-20 cm yang bertujuan untuk mempercepat proses pengeringan pada saat persiapan dan pemanenan.
Pintu pemasukan air (in-let) dan pengeluaran air (out-let) dapat dibuat dari kayu, tembok (bis beton) dan PVC yang disesuaikan dengan luas petakan tambak. Untuk mengantisipasi predator dan carrier yang masuk pada pemasukan air harus menggunakan saringan.

Kualitas Tanah dan Air Sumber
Dalam budidaya udang windu organik struktur tanah dasar tambak sebaiknya lempung berpasir dengan perbandingan 70:30 untuk menjamin kestabilan penumbuhan pakan alami, dan tidak poreous sedangkan sumber air yang digunakan harus sesuai dengan parameter standar yang telah dibakukan yaitu:

Persiapan Lahan
Tahapan pertama yang dilakukan dalam persiapan adalah pembersihan tambak dengan pengeluaran lumpur baik dengan sistem basah maupun kering. Persiapan tanah secara basah (kondisi air macak-macak/lembab) memberikan kesempatan bakteri melakukan aktifitas meniralisasi secara sempurna. Bocoran pada pematang harus diperbaiki serta benar-benar bebas hama dan predator.
Untuk pemberantasan hama dan predator dapat juga dilakukan dengan cara pengeringan total sampai tanah dasar retak-retak, pembalikan tanah dasar dilakukan pada lahan yang potensial keasamannya rendah untuk menghilangkan gas-gas beracun. Pemberian kapur pada tanah dasar tambak dilakukan berdasarkan tingkat keasaman tanah.
Untuk mengetahui apakah tanah sudah siap, dapat dilakukan pengecekan dengan menggunakan potensiometer. Tanah dinyatakan berkualitas baik jika nilai potensi redoks benilai positif.

Persiapan Air Media
Petakan harus dilengkapi dengan petak tandon (reservoir) dengan luasan 30-50% dari luasan petak tandon (reservoir) dengan luas 30-50% dari luas petak pemeliharaan, tandon ini berfungsi sebagai biofilter dan cadangan air. Air yang masuk dalam petakan tambak harus diambil dari petak tandon (reservoir). Air yang masuk ke dalam petak pemeliharaan harus melalui saringan plankton (mess 80), untuk menghindari masuknya hama curier seperti jembret (Mesopodopsis).
Pemasukan air ke dalam petakan pemeliharaan dengan ketinggian 60-80 cm. Setelah air terlihat stabil dengan petakan dilakukan pemberantasan hama menggunakan saponin (tea seed) dengan dosis 10-12 ppm.
Untuk meningkatkan kualitas air media pemeliharaan dilakukan juga pemupukan untuk meningkatkan nutrient yang dibutuhkan oleh plankton.
Sarana aerasi yang digunakan dalam budidaya udang windu organik ini adalah kincir tunggul 1 unit/petak pemeliharaan yahng digerakan secara elektrik.

Penebaran Benih
Benih udang yang ditebar adalah benih (SPF) yang berasal dari hatchery yang bersertifikat. Pemilihan benur yang baik perlu dilakukan secara teliti meliputi penampakan visual dan tingkah laku. Pengamatan secara mikroskopis serta analisa terhadap kandungan penyakit? PCR. Pada saat penebaran benih terlebih dahulu dilakukan proses aklimatisasi yaitu melakukan aklimatisasi suhu, salinitas, pH antara air dalam kemasan dan air tambak. Penebaran dilakukan dengan kepadatan 6-8 ekor/meter. Penebaran benur sebaiknya tidak terkonsentrasi dalam satu tempat.

Managemen Pakan
Pakan utama yang digunakan adalah pakan alami berupa (plankton, klekap, luput dan biota lainnya yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan). Sedangkan pakan berupa pellet merupakan pakan tambahan, pakan pellet yang digunakan adalah pakan yang tidak menggunakan bahan anorganik.

Managemen Air
Manajemen pengelolaan air selama pemeliharaan dilakukan dengan melihat parameter kualitas lingkungan. Pada kondisi tertentu pergantian/penambahan air dapat dilakukan seperlunya (less water exchanger). Kontrol kualitas air harian dilakukan pada parameter pH, salinitas, DO, alkalinitas dan kecerahan. Aplikasi kapur fermentasi dan probiotik dilakukan berdasarkan kondisi lingkungan (jika diperlukan).

Managemen Udang
Monitoring kondisi udang secara visual yang dilakukan setiap hari, udang yang sehat dapat terlihat secara fisik dari : nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ, dan jaringan tubuh. Monitoring secara laboratories dilakukan waktu tertentu.

Panen
Panen udang dilakukan setelah udang berumur 120 hari atau (sudah masuk ukuran pasar). Pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat jala tebar, suhu, prayang dan jaring kantong.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya
http://www.perikanan-budidaya.go.id/detail_berita_fr.php?id=55

Tidak ada komentar:

Translate