4 Mitos Menjerumuskan Terkait Hipertensi

Pemahaman salah bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke.

RABU, 9 MEI 2012, 13:05 WIB | Pipiet Tri Noorastuti, Rizky Sekar Afrisia

VIVAnews - Hipertensi termasuk silent killer, penyakit yang diam-diam membunuh. Tanpa gejala dan keluhan serius, gangguan tekanan darah tinggi ini rentan berkembang memicu penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke.

Di Indonesia, penderita hipertensi mencapai 31,7 persen dari total penduduk dewasa. Dari jumlah itu, hanya 7,2 persen yang menyadari kondisinya, bahkan hanya 0,2 persen yang mengonsumsi obat antihipertensi.

Di tengah ancaman serangan fatal, muncul sejumlah mitos seputar hipertensi yang mengacaukan pemahaman masyarakat. Apa saja mitos itu?

1. Tengkuk pegal dan kepala pusing gejala hipertensi.
Salah. Hipertensi terjadi tanpa keluhan. Hipertensi tak melulu disertai rasa pusing. Namun, keluhan semacam itu tetap mungkin terjadi terutama ketika sudah tingkat parah dan menyerang organ-organ seperti otak, ginjal, atau jantung.

Cara terbaik untuk mengetahui Anda menderita hipertensi atau tidak, adalah dengan mengukur tekanan darah. Normalnya, tekanan darah orang dewasa sekitar 120/80.

2. Tak ada keluhan, hipertensi tak perlu diobati.
Salah. Sekali lagi, tidak ada keluhan bukan jaminan Anda bebas hipertensi. Justru jika hipertensi yang tanpa gejala itu tidak diobati, kondisinya akan semakin parah dan merusak pembuluh darah serta organ-organ vital. Karenanya penting mengukur tekanan darah secara rutin dan mengonsultasikannya ke dokter.

3. Obat bisa dihentikan jika sudah normal.
Salah. Obat antihipertensi berfungsi sebagai pengontrol tekanan darah. Meski tekanan darah telah normal, obat tetap perlu dikonsumsi untuk menjaga kondisi tubuh. Hipertensi sendiri adalah penyakit permanen, yang memerlukan long-life treatment. Tidak bisa disembuhkan, dan tidak boleh berhenti mengkonsumsi obat seumur hidup.

4. Hipertensi pada lansia wajar, tak perlu diobati.
Salah. Membiarkan hipertensi sangat berbahaya karena bisa merusak organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal. Tak peduli usia. Tiga tokoh dunia, Winston Churchill, Franklin Roosevelt, dan Stallin, meninggal karena mengabaikan hipertensi. Jika pernah mengalami hipertensi, jangan berhenti mengonsumsi obat untuk mengontrolnya. Setiap tekanan darah turun 2mmHg, artinya mengurangi 7 persen resiko kematian akibat jantung dan 10 persen stroke.

Jadi, jangan mudah percaya mitos. Lebih baik periksa tekanan darah secara rutin dan berkonsultasi ke dokter.


Sumber : VIVAnews.com : http://kosmo.vivanews.com/news/read/312110-4-mitos-menjerumuskan-terkait-hipertensi

Tidak ada komentar:

Translate